Ini masa laluku, Bagaimana masa lalumu?
Jika kembali ke masa lalu, banyak cerita dengan berbagai rasa. Ini salah satu ceritaku,
.
Sejak kecil ada keinginan yang begitu besar, yang membuatku harus berjuang untuk mendapatkannya. Mungkin dulu berfikirnya, tak pernah ada cara curang untuk mendapatkannya. Lalu tetap berjalan berusaha mendapatkan yang terbaik. Hingga akhirnya, aku remaja dan keinginan itu terus ada, kemudian aku tetap pada pendirian. Terus melangkah hingga lelah, lalu tiba-tiba terhenti. Disitu, arti berjuang benar-benar terlihat. Dan disitu, aku menyadari banyak peran yang harus bertindak. Kemudian, aku bangkit perlahan dan mencoba mendapatkan kembali. Dengan kesalahan yang sama, berfikir bahwa keinginan yang satu ini benar-benar tak dapat dibeli dengan uang. Jadi, aku tak mendapatkannya. Dengan segala kesal, aku tetap dalam diamku. Aku masih menjadi seperti boneka, bukan jadi diri sendiri. Menjalani hari hingga kini, tapi tak sepenuh hati. Bagaimana rasanya? Ini bukan tentang 1 tahun, tapi tentang waktu yang sangat lama. Semua yang dipilih hanya sebuah pilihan, begitu pula pilihanku. Aku hanya harus menghilangkan rasa kesal yang tak berwujud ini. Tak peduli dengan bullying mereka. Mereka mungkin sama namun cara mereka menyikapi yang berbeda. Aku sadar, banyak pencintraan yang terjadi selama rasa kesal ini belum berbalas. Dan aku sungguh tak peduli dengan itu. Lalu jangan berkata orang lain boros saat mereka menghabiskan uangnya untuk sesuatu yang menurutmu tak penting, karena itu cara mereka membalas masalahnya. Mungkin masalahnya selesai telah lama, namun rasa yang pernah ada tak semudah itu hilang. Caraku menghilangkan kesal itu dengan cara membeli apapun yang aku mau selama dapat dibeli dengan uang. Dan pemilikku tak pernah protes tentang itu. Karena mereka tau, aku terlalu jujur untuk mendapatkan apa yang aku mau waktu itu. Hingga kini dan entah sampai kapan aku melakukan hal bodoh ini. Sekian orang meneriakiku, mengomentari apapun yang aku lakukan namun sungguh aku tak semenyedihkan itu. Pencintraan mungkin cukup untuk membalas mereka. Tetapi dibalik semua itu, omogan mereka hanya sampah. Karena aku tahu cara menjalankan sesuatu tanpa mereka suruh. Dan aku cukup mengerti tentang arti "berhematlah untuk hari tua". Lalu sekarang siapa yang merana dalam lingkarannya?
.
- Penuhi apapun yang kau inginkan selama itu bisa dicapai dengan uang -
Komentar
Posting Komentar