Problem of Friends
Meiopini.....
#######
Di tahun 2017 ini, rasanya orang menyebut fake friend or real friend sudah menjadi kebiasaan. Dengan begitu, spontant comment juga sering dijumpai. Entah itu hate speech or good speech, karena orang lain bahkan tak memilah antara keduanya. Bukan hanya para remaja, tapi hampir disemua kalangan melakukannya. And I'm bored with all of the people yang ngebuat suatu hubungan jadi buruk. Menurutku, fake friend itu gak pernah ada kalau kita gak membuka kesempatan untuk hanya 'memanfaatkan' saja. Memanfaatkan dalam artian nothing give and get dalam sautu hubungan. Karena selama aku memperhatikan, mereka yang dibilang real friend akan secara gak sengaja melakukan give and get nothing ask before. Memang sih gak semuanya kayak gitu. Dan jangan diartikan apa yang kita beri dan apa yang kita terima selalu berhubungan dengan uang. The answer is big No. Karena give and get artinya bisa luas. Misalkan, dengan kita memberikan kepercayaan kepada teman kita, itu bisa diartikan kita menghargai dia, atau saat kita merasa dibutuhkan oleh teman kita, itu juga gift yang luar biasa. Secara gak sengaja, typical of fake or real friends juga dapat dilihat dari kebiasaan-kebiasaan itu.
.
Jangan pernah menganggap bahwa untuk mencapai real friend itu mudah. Prosesnya mungkin tak harus melibatkan waktu, tetapi seberapa tulus dan nyaman mereka dalam hubungan tersebut. Banyak yang akhirnya menemukan sahabat sejati tapi mereka tak pernah menganggap itu persahabatan yang sejati. Karena nyatanya, apa yang kita lakukan bersama itu yang lebih penting dari sekedar sebutan pasaran yang sering dibicarakan dimana-mana.
.
Aku beropini tentang ini, karena aku bukan yang tipe punya banyak 'teman paling dekat'. Cause I'm a girl with the protective parents, jadi gak banyak yang menerima keadaan itu. But I'm fine with my condition, I'm happy with anything people think about it. Dan aku tipe yang gak butuh mereka juga saat mereka mencoba 'meremehkan'. Sorry with freaking words. And you know when your friends assume you that you're nothing for them, itu benar-benar freaking fake friends.
.
Bersyukurnya aku yang sudah mulai menganggap jadi diri sendiri itu penting. Sehingga, aku lebih gak mikirin tentang penilaian orang lain terhadapku. Aku mendengarkan mereka, tapi aku tak menjadikannya sebagai sesuatu yang merobohkan pagarku. Dan aku pernah menyesal karena mendengarkan orang-orang yang salah. Tapi semua itu proses menuju sesuatu yang baik. Dan dengan kejadian itu aku mengerti satu hal,
'SAAT 1 ORANG BERMASALAH DENGANMU ITU WAJAR, TAPI SAAT 2 ORANG BERAMASALAH DENGANMU, MUNGKIN ADA YANG SALAH DI DIRIMU, JANGAN MENUNGGU 3 ORANG, ATAU SEMUA ORANG YANG AKAN PERGI'
Komentar
Posting Komentar