Jodoh in Journey
Journey....
Ketika mendengarnya pasti kalian akan berubah ekspresi jadi 'wow', iya gak?. Misalnya ada yang cerita atau ngomong "Keep enjoy with you're journey yaaa" atau bla bla bla. Tak dipungkiri sih, para pecinta perjalanan selalu terlihat keren, terlihat kalau goals di hidupnya uda tercapai atau terlihat dia kaya (yang ini sihh 70% real ya, kalau kita ga punya duit juga ga bakalan bisa menjelajah). Ngomongin tentang journey bukan berarti aku juga salah satu petualang ya. Jauh dari kata itu, I'm just girl with biggest expectation to be a traveller. Hingga 'setua' ini bahkan, tempat yang pernah ku kunjungi bisa dihitung dengan jari. Poor me! but no problem, cause I'm an introvert so I just need many book, internet and a cup of coffee to survive (honestly :(, aku menginginkan 'perjalanan' itu sekarang). Because what?. Ada alasan terbesar kenapa aku mulai menulis like 'to do list' or 'bucket list' untuk selanjutnya setelah ini, karena dengan melakukan 'journey' itu, kemungkinan aku bertemu dengan orang baru akan besar sekali, dan kemungkinan aku bertemu dengan special someone juga ada. Karena aku percaya, untuk 'kembali' itu butuh perjuangan. And journey is one away [now] to be a bridge between me and him.
Jodoh...
Salah satu kata yang bisa buat hati para mahasiswi semester tua 'baper'. Dan saat aku nulis ini, aku juga di semester akhir kok, wkwkwk. Menurutku, ngomongin jodoh itu agak aneh, karena hingga 'setua' ini masih belum kepikiran kapan nikah. Tapi kenapa ini topiknya tentang jodoh?, cause I have a dream that I wish meet him in my journey [sok melow kalimatnya]. Him is dia yang pernah ada [ I wish (again), you will read this story]. Jodoh itu Tuhan yang ngatur memang, tapi kalau kita tak berusaha mendekat mungkin akan tetap sampai, tapi ga ada pengalaman yang menariknya. Nah, salah satu cara untuk mengurangi ke'baperan' itu, lets doing something, make it awesome, and share it with people else dengan melakukan journey. Untukku memulai suatu petualangan ini cukup berat, literally aku masih yang benar-benar di bawah overprotective my parent. Tapi dengan mlakukan to do list or bucket list, kita bisa tau kapan waktunya pergi dan kapan waktunya pulang kerumah.
Komentar
Posting Komentar